Bukankah aneh melihat bagaimana dunia membawaku berkeliling, tapi tetap saja ujungnya kamu selama bertahun-tahun. Ia selalu saja berputar-putar pada satu poros yang sama, tapi kita selalu berseberangan. Aku melihatmu, kamu pun sebaliknya, tapi kita diam saja.
Nyaliku sebatas memastikanmu baik-baik saja dari unggahan yang kau pajang beberapa.
Lucu, karena setelah semua itu, dunia membawakan satu kesempatan lagi. Membawa kita pada masa yang serupa, sama seperti yang pernah kita jalani. Seperti kembali lagi pada satu musim setelah setahun habis, aku ditemui oleh kenangan lama berisi tawa dan tangis.
Kita mulai dari dua anak SMA yang lugu, hingga tumbuh dewasa yang tahu malu. Dari yang sama sekali tidak mengerti, lalu saling menebak arti. Entah kenapa semesta membuatku mudah lelah dan tak ingin buru-buru cari yang baru. Padahal kalau aku mau, aku bisa saja membawakanmu kilauan pacar baru. Sepertimu yang bahkan kurang dari seminggu. Lalu, kupamer padamu hal yang tidak perlu. Maksudku, aku bisa perlihatkan apa pun, agar dunia merasa bahwa aku tetap baik-baik saja meski tidak denganmu.
Tapi apa yang kaulakukan setelah 365 hari sejak terakhir kita bersua? Apa ada yang kauanggap lucu juga? Apa ada yang bisa kauceritakan kembali sekarang? Mungkin penyesalan? Mungkin rindu yang tak pernah selesai? Atau mungkin dorongan-dorongan untuk menemuiku lagi saat ketakutan pikiranmu datang di tengah malam? Apa barangkali ada “maaf” yang sudah lama dipendam dalam-dalam dan perlu kita bahas pelan-pelan?
Dunia telah mengantongiku waktu. Kurasa itu cukup. Kita bisa coba menuntaskan pertanyaan-pertanyaan yang lama menggantung. Sebab jika bukan di kehidupan ini, aku tak yakin semesta akan sebaik ini, nanti.
Maka selesaikanlah aku. Duduk di sini dan kita habiskan isi gelas kopi kesukaanmu seraya bertanya tentangku. Tentang semua yang selama ini ingin kita tahu, semua “mengapa” yang terasa mengganggu.
Aku akan dengarkan dan jawab satu per satu. Aku akan di sini sampai kita sama-sama lega.
Aku hanya tak kan janji apa-apa soal perasaanku. Meski rasanya bisa diraih, tanganmu tak pernah terasa pas di tanganku. Terlebih sekarang dengan kilauan cincin indah yang melingkar di jari manismu.
Semua bukan salah kita. Bukan salah siapa-siapa.
Dunia hanya selalu seperti ini. Senang bermain-main dan melucu.
Sekarang lupa, besok rindu.

Leave a Reply